“ I Am Zero and Nothing “


Reuni bisa jadi kata yang teman-teman sukai atau benci. Berawala dari status saya di Facebook, ide reuni pun dilontarkan. Bagi saya reuni kala itu sungguh berkesan. Setidaknya saya bisa berilaturahmi kembali dengan teman-teman, bertatap muka langsung dengan mereka dan rasanya sungguh berbeda dengan ketika kami ngobrol lewar Facebook.

Selain itu juga bisa mengenang masa-masa “badung” dengan teman-teman satu geng. Tapi di sela-selangobrol , saya menyadari ada seorang teman yang tidak bisa datang. Melalui telepon yang langsung saya terima, dia menyatakan penyesalannya tidak bisa hadir di reuni. Alasannya, ada suatu hal yang tidak bisa dia tinggalkan.


Belakangan saya baru tahu alasan sebenarnya ketidakhadiran teman saya itu. Melalui catatan di Facebook yang sengaja di tag ke saya, saya baru tahu kalau dia mengalami apa yang dinamakan sindrom “I am zero and nothing”. Itulah sebabnya dia sedemikian benci jika mendengar kata reuni. Dia merasa tidak siap jika bertemu dengan teman-teman lainnya, termasuk saya.


Ketidaksiapannya justru bermuara pada kekhawatiran akan pertanyaan-pertanyaan yang nantinya akan dilontarkan oleh teman-teman kepadanya. Dia merasa tidak siap untuk menjawab pertanyaan seputar “tinggal dimana?”, “kerja dimana?”, “sudah menikah?”, atau “anakmu berapa?”. Bagaimana dia bisa menjawab berapa jumlah anaknya sekarang, jika sampai saat ini dia masih menjomblo. Selain itu dia juga merasa tidak ada yang bisa dibanggakan darinya karena saat ini pun dia hanya kerja serabutan, yang gajinya mungkin tidak seberapa. Padahal jika dilihat dulu, semasa sekolah dia adalah anak yang pintar dan banyak pacarnya.


Dalam situasi “under pressure” seperti itu, wajar jika ada orang yang sangat sensitif dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya sangat standar dan lazim dilontarkan jika kita lama tidak bersua. Saya bisa membayangkan seandainya teman saya itu hadir di acara reuni waktu itu, dia pasti akan memutar otak dan merancang strategi untuk bisa menjawab pertanyaan sebaik mungkin. Kalau untuk menjawan masalah pekerjaan, bisa saja dia mengarang cerita, yang penting tidak terlalu muluk-muluk dan memalukan. Tapi giliran masalah pasangan hidup, dia tidak bisa membuat fantasi berlebih.


Oleh karena itu, keputusan untuk tidak hadir bisa menjadi solusi yang dianggapnya paling baik daripada harus mengarang cerita yang mungkin sama sekali jauh dari kebenarannya.


Jadi alangkah baiknya memang jika sebuah acara reuni bisa menjadi sebuah acara yang mampu memberdayakan setiap pesertanya. Wah, pasti bakalan seru sekali ya! Sebab jika acaranya hanya kangen-kangenan, apalagi kemudian ada acara pentas kesuksesan antar alumni, baik yang bersifat implisit maupun eksplisit, orang-orang yang mengalami perasaan atau sindrom “I am zero and nothing” seperti teman saya tadi pasti dijamin akan ogah-ogahan untuk datang. Tapi jika acaranya dikemas sedemikian rupa sehingga setiap orang yang datang bisa saling belajar, salaing memberi, dan saling memberdayakan, tentu akan lain keadaannya.


( Disadur dari : Kompasiana / KORAN KOMPAS, edisi Kamis, 13 Oktober 2011)