EKSISTENSI IDEAL

Reuni.... Apa itu reuni? Menurut bahasa Reuni berasal dari dua kata yaitu Re dan Uni. Re artinya kembali dan uni artinya ikatan. Jadi bisa diistilahkan reuni adalah mengembalikan ikatan yang telah terkikis ato tercerai berai baik karena jarak atau waktu (Riki Nurhidayat).

Kita terkadang menganggap remeh reuni, karena reuni dianggap tidak akan bernilai guna untuk kita. Sehingga membuat kita enggan untuk menghadiri reuni. Mungkin akhirnya akan timbul pertanyaan dalam hati kita "Apa manfaat reuni" dan "Untuk apa menghadiri reuni?"

Untuk menjawabnya, mari kita lihat dari dua sudut pandang. Sudut pandang filsafat dan sudut pandang teologi Islam.

1. Sudut Pandang Filsafat

Logikanya kita menghadiri reuni jika bernilai guna untuk kita. Apabila logikanya dibalik, kita tidak akan menghadiri reuni jika reuni tidak bernilai guna untuk kita. Tapi bagaimana kalau kita rubah logikanya!? "Kita menghadiri reuni karena kita akan bernilai guna untuk reuni". Bagaimana kita secara individu sedikit banyak bernilai guna untuk reuni. Sehingga dengan nilai guna yang kita sumbangsihkan pada reuni, reuni pun akan lebih bermakna. Tidak hanya itu, reuni juga bisa menjadi salah satu pembuktian eksistensi kita sebagai alumni Dhe-A angk 19/7.

2. Sudut Pandang Teologi Islam

Segala sesuatu berasal dari Allah SWT. Tentu saja keyakinan tersebut tidak serta merta tumbuh begitu saja dalam diri kita. Keyakinan tersebut tumbuh sesuai dengan keimanan seseorang. Ketika kita dihadapkan dengan sesuatu, dalam hal ini reuni, maka kita akan meyakini bahwa reuni adalah sebuah acara yang dihadirkan Allah SWT kepada kita. Tentu saja dengan keyakinan tersebut kita akan menghadapi segala sesuatu yang dihadapkan kepada kita seperti layaknya penghadapan kepada Allah SWT.

Jadi pertanyaan apa manfaat reuni dan untuk apa kita menghadiri reuni telah terjawab dengan sendirinya. Karena pada dasarnya kita tidak perlu lagi mempertanyakan kedua pertanyaan tersebut. Kita sebagai seseorang yang mengaku beragama Islam, bukan hanya di KTP, akan senantiasa menghadapi segala sesuatu dengan sebaik-baiknya sebagai wujud eksistensi orang Islam yang beriman. Tidak pernah ada kata remeh dalam kamus kita karena kita mempunyai keyakinan bahwa segala sesuatu datangnya dari Allah SWT.


Riki Nurhidayat-2011